Seorang pemuda sedang termenung di sebuah taman belakang sekolah. Entah apa yang membuat pemuda itu betah berlama-lama disana seorang diri. Dipetiknya senar gitar yang sedang dia pangku, sehingga menimbulkan sebuah irama yang begitu indah. Mulutnya tak pernah berhenti melantunkan sebuah lagu kesukaannya. Barra Ziyaad Rinaldi, pemuda yang berstatus pelajar SMA ini sedang di mabuk cinta. Barra sudah 2 tahun menyukai seorang gadis yang satu sekolah dengannya. Tetapi Barra tidak pernah mengungkapkan perasaanya itu.
Malu, satu kata yang membuat Barra enggan mengatakan cintanya. Barra lebih memilih memendam perasaanya selama bertahun-tahun. Setiap hari, Barra selalu memantau gadis pujaan hatinya secara diam-diam tanpa ada seorang teman pun yang mengetahui kecuali sahabat karibnya, Bagus Bagaskara. Bagus sudah mengetahui kalau Barra menyukai gadis bernama Syabilla Rizqy selama 2 tahun ini. Bagus selalu memberikan saran dan semangat agar Barra mau mengungkapkan perasaanya itu.
Tetapi Barra selalu menolak dengan alasaan yang menurut Bagus tidak masuk akal.
“Barra…”
Bagus berlari menghampiri Barra dan langsung duduk disamping Barra yang sedang bermain gitar.
“Apa?” Barra yang sudah mengetahui bahwa itu Bagus hanya menjawab tanpa menatap lawan bicaranya.
“Yaelah, tatap gue kek Bar.”
“Ckk.. apaan sih, Gus?”
Barra geram dan menaruh gitar yang sedari tadi sedang dia pangku di sebelah kiri.
“Gue tau kapan waktu yang tepat buat lo nembak Billa?” Bagus menaik turunkan alisnya.
“Hufft, gue nggak berani. Gue takut ditolak sama Billa, Gus.”
Barra menyandarkan tubuhnya di bangku taman. Seketika Bagus langsung menegakkan tubuhnya.
“Yaampun Bar, lo kan belum pernah nyoba? Kalaupun lo ditolak, se-enggaknya lo udah berani ngungkapin ke Billa. Ayolah Bar, lo itu cowok harus gentelmen. Kaya gue nih udah 4 kali nembak Rara meskipun selalu ditolak gue nggak pernah mundur buat dapetin dia haha...”
Barra begitu bangga pada dirinya sendiri dan tertawa lepas.
“Bangga baget sih lo ditolak Rara.” Barra mencibir Bagus.
“Eiits.. jangan salah, pas nembak yang ke 5 kali gue diterima dong sama Rara. Nggak kaya lo, belum pernah nyoba udah langsung mundur. Dasar mental krupuk!"
Bagus balik mencibir Barra. Barra terdiam, meresap ucapan sahabatnya itu.
“Nggak salah kali yah gue coba sekali. Bener juga kata si Bagus gue harus positif thingking.”
Batin Barra.
Mata Barra berbinar dan langsung menegakkan tubuhnya menghadap Bagus.
“Kapan waktu yang tepat?”
********
Keringat dingin membasahi wajah dan telapak tangan Barra. Sedari tadi Barra tidak pernah berhenti memanjatkan do’a agar rencananya akan berhasil dengan mulus. Bagus yang melihat ekspresi Barra yang sangat tegang terkekeh geli dan langsung menepuk bahu kanan Barra.
“Tenang Bar, rileks. Gue yakin Billa pasti nerima lo.”
Bagus memberi semangat pada Barra yang sedang harap-harap cemas seolah menunggu hasil kelulusan sekolah. Barra mengangguk, menanggapi ucapan Bagus
*******
“Ayo Bil, ikut gue sebentar, please?” Rara menyatukan kedua telapak tangannya dan memasang wajah memohon.
“Kenapa sih, Ra? Lo nggak liat, gue lagi ngerjain pr nih.”
Billa meletakkan pulpen yang dia pegang keatas meja.
“Sebentar doang kok, ya...ya...ya?”
Billa menghembuskan nafas kasar dan akhirnya mengangguk.
“Iya ... iya.”
Rara tersenyum puas dan menarik tangan Billa keluar kelas.
Rara membawa Billa kedalam Aula sekolah. Billa menatap heran Rara, kenapa dirinya dibawa kesini?
“Bil, lo tunggu disini ya sebentar. Gue pengen ke toilet dulu kebelet nih hehe..”
Billa mengangguk.
Setelah Rara ke luar aula, dia langsung memberi kode pada Bagus.
“Lo udah siap, Bar?”
Barra mengangguk mantap.
"Rileks, okey?" ucap Bagus.
“Hufft..”
Barra membuang nafas kasar dan langsung memetik sinar gitarnya.
JRENG~
Billa yang mendengar suara gitar langsung menolehkan kepalanya dan matanya langsung membola. Di depan sana Billa melihat Barra yang sedang bernyanyi sambil memetik gitar. Pandangan Billa langsung menyapu keseluruh sudut aula, Billa baru menyadari bahwa didepan sana terdapat bunga-bunga yang terbentuk rapi menggambarkan huruf LOVE.
Tidak hanya itu aula ini sudah disulap menjadi tempat yang sangat romantic. Ada apa ini? Pikir Billa.
Barra yang sudah selesai menyanyikan lagu langsung menghampiri Billa dan mengenggam kedua tangan Billa.
“Billa, aku pengen ngomong yang sejujurnya. Sebenarnya, a..a..aku sudah lama menyimpan perasaan ini. Tetapi baru sekarang aku berani mengungkapkannya. Entah bagaimana caranya, hati ini selalu berdetak tak karuan ketika melihatmu. Darah ini, selalu berdesir hebat ketika kamu berada di dekatku. Aku bingung perasaan apa yang sedang aku rasakan. Dan baru aku sadari bahwa selama ini aku menyukaimu. Billa, kamu mau kan jadi pacar aku?”
Billa sedikit terkejut mendengar pengakuan Barra. Billa tidak menyangka jika selama ini Barra menyukainya.
“Bil, kamu mau kan?”
Billa melepas genggaman tangan Barra.
“Kenapa Bil?”
“Maaf Bar, aku nggak bisa. Aku sudah punya pacar.”
DEG…
Dada Barra terasa dihujam beribu panah saat mendengar pengakuan dari Billa. Badanya mendadak lemas. Kakinya sudah tak kuat lagi menopang tubuhnya yang cungkring.
“A ... apa? sudah punya pacar?”
“Iya, aku sudah punya pacar. Aku sudah 1 tahun menjalin hubungan dengan pacarku. Maaf ya, aku yakin kamu bisa dapet yang lebih baik daripada aku.” Billa tersenyum, mengusap pundak kanan Barra dan berlalu pergi dari hadapan Barra.
Bagus dan Rara yang melihat kejadian tadi langsung berlari menghampiri Barra yang sedang tertunduk.
“Yang sabar Bar, se-enggaknya lo udah berani buat ngungkapin perasaan lo selama ini.”
Bagus menepuk pundak Barra seolah memberi semangat pada sahabatnya yang sedang patah tulang itu *eh salah maksudnya patah hati*
“Maaf ya Bar, aku nggak tau kalo Billa udah punya pacar.”
Rara merasa tak enak hati dan merasa bersalah. Barra mendongakkan wajahnya dan tersenyum miris.
“Nggak papa kok, mungkin emang Rara bukan jodoh gue. Makasih ya, lo berdua udah bantuin gue buat nyiapin ini semua.”
Barra merangkul pundak kedua temannya. Mereka bertiga berjalan keluar aula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar